Kebudayaan Resume Menganggapi Artikel dari Media Elektronik


Sumber: http://suarapembaca.detik.com/read/2011/04/08/101821/1611575/471/goyang-bollywood-ala-briptu-norman-dan-realita-kemiskinan

Diakses:

Senin, 11 April  2011 jam 14:43 WIB

 

 

GOYANG BOLLYWOOD ALA BRIPTU NORMAN, DAN

REALITA KEMISKINAN

            Briptu Norman Kamaru, anggota Brimob Polda Gorontalo, akhir-akhir ini demikian populernya di masyarakat, pasalnya video dirinya di ‘youtube’ yang sedang ‘lips sync’ lagu yang dinyanyikan Shah Rukh Khan yang berjudul ‘Chaiyya, Chaiyya’, menarik banyak pihak dan menjadi pembicaraan dari orang di pinggir jalan hingga di parlemen.

Menarik karena selain lucu dan kocak, juga dikarenakan dilakukan saat dirinya berdinas resmi. Bahkan salah satu televisi berita, setiap pagi menayangkan ‘clips’ Briptu Norman  sepanjang durasinya, bahkan langsung membandingkan dengan penyanyinya langsung Shah Rukh Khan saat bernyanyi di Film ‘Dil Se’ (Dari Hati), tahun 1998.

Atas ulah itu, pihak kepolisian sebelumnya hendak memberi sanksi kepada dirinya, namun berkat dukungan dari berbagai pihak, dari dukungan di ‘facebook’, dari anggota DPR, dan dari advokasi televisi yang memvisualisasikan Presiden SBY bernyanyi, maka sanksi itu tidak jadi diberikan kepada Briptu Norman.

Bahkan pihak kepolisian akhirnya tidak mempermasalahkan tingkahnya, bahkan mendukung bila diperlukan. Dari sikap bijak institusi polisi kepada Briptu Norman itu membuat dirinya menjadi selebritis baru. Ia sering diundang stasiun televisi untuk mengisi acara.

Menjadi pertanyaan mengapa Briptu Norman dalam peristiwa itu mendendangkan lagu India, bukan lagu-lagu popular dari Indonesia atau lagu-lagu daerah yang sangat popular seperti ‘Cucak Rowo’, ‘Stasiun Balapan’ atau ‘Perahu Layar’? Itu bisa jadi karena kuatnya budaya Bollywood di Indonesia.

Budaya Bollywood yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1970 lewat film-filmnya mampu diterima oleh masyarakat Indonesia bahkan menjadi ‘trendsetter’. Selepas Briptu Norman melakukan ‘lips sync’, televisi-televisi swasta di Indonesia pun berlomba-lomba menayangkan lagu-lagu India. Kuatnya budaya Bollywood itu, tak heran bila masyarakat Indonesia mengenal Amita Bachan, Dharmendra, Hema Malini, Ray Kapoor, Shah Rukh Khan, Kajool Devgan, dan bintang-bintang Bollywood lainnya.

Dampak kuatnya budaya Bollywood di Indonesia tidak hanya mengancam budaya nusantara, namun juga mengancam nasionalisme keturunan India di Indonesia. Banyak orang keturunan India di Indonesia, mengungkapkan bangga dengan keindiannya.

Bollywood sendiri menjadi ‘trendsetter’ tidak hanya di Indonesia namun di berbagai belahan dunia. Di Jerman, film yang berjudul ‘Kabhi Khushi Kabhie Gham’ dirilis besar-besaran. Film-film itu telah disulih suara dan dijual dengan judul ‘Bollywood macht glucklich’! (Bollywood membuatmu senang).

Di Korea Selatan, film-film Bollywood mampu membentuk sebuah komunitas yang bernama ‘Bollywood Lovers Club’. Club yang dipimpin Kwanghyun Jung memiliki anggota sebanyak 7000 orang yang suka menggunakan kaus bergambar Shah Rukh Khan. Dari film itu di Korea Selatan sampai ada kelas-kelas tari Bollywood.

Akibat dari film-film Bollywood, di Nigeria bagian utara, indianisasi sangat terlihat di dinding-dinding kota dan di badan-badan taksi dan bus yang bersliweran. Di taksi dan bus, stiker dan poster yang bertuliskan bintang-bintang Bollywood penuh menghiasi. Saking massifnya film-film Bollywood, ‘musuh’ India, Pakistan, mengalami ketakutan sehingga pasca perang India-Pakistan tahun 1965, Pakistan sempat melarang film Bollywood.

Pada tahun 2003, survei Nielsen EDI melaporkan tujuh film India masuk sepuluh besar di Inggris, sejak 1989, karena dibintangi Shah Rukh Khan. Film-film itu berjudul ‘Dilwale Dulhania Le Jayenge’ (Hati Berani Akan Mengambil Pengantin Wanita), ‘Dil Se’, dan ‘Kuch Kuch Hota Hai’ (Hanya Terjadi Sesuatu). Dan yang terakhir film dengan judul ‘My Name Is Khan’ memecahkan rekor ‘box office’ Inggris.

Film yang dibintangi Shah Rukh Khan itu melejit ke nomor enam ‘box office sejak dirilis pada 12 Februari 2010. Film yang juga dibintangi Shah Rukh Khan itu mencetak sejarah sebagai sejarah sebagai film India pertama yang meraih pendapatan terbesar dalam jajaran ‘box office’ Inggris. Film itu meraup US$1,4 juta sepanjang masa penayangan perdana. Di Amerika pun, film tersebut menuai sukses. Sepanjang pekan awal penayangan telah meraup US$18 juta (Buku: Shah Rukh Khan The King of Bollywood).

Film produksi Bollywood selain menjadi ‘trendsetter’ di banyak belahan dunia, menyebarkan budaya India ke seluruh dunia, juga mampu mengikat sekitar 20 juta orang India dan keturunannya yang tersebar di 110 negara. Keterikatan orang India akibat film Bollywood sama seperti orang China perantauan yang terikat dengan ikatan leluhur dari negara asalnya (China).

India bila dilihat dari tayangan film Bollywood sangat gemerlap, namun apa yang terjadi sesungguhnya sangat kebalikan dari apa yang ada di film. India meski sebagai salah kekuatan ekonomi yang baru, di samping China dan Brasil, namun di tengah-tengah masyarakat masih banyak kemiskinan.

Pada awal-awal tahun 2009, UNDP memperkirakan pemukiman kumuh di India masih akan berkembang. Setidaknya 42 juta orang, setara dengan jumlah penduduk Spanyol, hidup di area kumuh di India. India juga berkutat dengan masalah gizi buruk yang dialami 57 juta balita.

Sebuah studi oleh Dewan Nasional Ekonomi Terapan India juga memperlihatkan penyebaran kemiskinan yang tidak diperkirakan di negara-negara bagian India. Disebut sebuah negara, Gujarat, selalu masuk dalam enam negara bagian India dengan pendapatan per kapita tertinggi, seperti dilaporkan oleh wartawan BBC Marianne Ladzettel. Namun pada saat bersamaan, juga masuk dalam negara bagian yang memiliki tingkat kelaparan yang meluas, bersama dengan Bihar, Orissa, dan Karnataka.

Dari sebuah bentuk kemiskinan itu ditunjukan oleh mantan Ratu India Appamma Kajjallappa, istri ketiga Raja Venkateswara Ettappa, penguasa di Virudhunagar. Bersama anaknya, ia rela hidup di sebuah gubuk dan berjuang keras untuk mendapatkan sesuap nasi.

Ia rela hidup seperti itu sebab harta benda peninggalan suaminya, semua di sumbangkan ke rakyat. Bahkan, istana peninggalan juga sudah berubah menjadi sebuah sekolah demi memenuhi permintaan rakyat. Ia mengatakan mungkin dulu ia adalah seorang ratu, tapi kini ia bukan siapa-siapa lagi. “Kami sangat miskin,” ujarnya kepada media massa.

Hidup dalam kemiskinan seperti itulah sesuatu yang tidak mengenakan, untuk melupakan kemiskinan itu, maka rakyat India melupakannya dengan dengan menonton film produksi Bollywood. Disebut dalam buku ‘Shah Rukh Khan The King of Bollywood’, produksi film India dalam setahun mencapai 800 film. Di dalam negeri, film-film itu mampu menyedot penonton sebanyak 15 juta sehari yang membanjiri 12.500 bioskop.

Selepas nonton film Bollywood mereka tetap miskin dan lapar, untuk melupakan kelaparan dan kemiskinan itu maka mereka menyanyi dan menari seperti apa yang terjadi di film. Dengan cara seperti itulah maka kemiskinan dan kelaparan di India bisa ‘dihapuskan’ atau dilupakan.

Dengan belajar apa yang terjadi di India, maka apa yang dilakukan oleh Briptu Norman Kamaru merupakan cermin apa yang terjadi di Indonesia. Minimnya gaji yang diterima dan ketidakpastian hidup rakyat kecil atau orang yang berpangkat rendah, maka hal itu membuat hidup sengsara. Untuk melupakan hal demikian maka mereka menyanyi dan menari, dengan tujuan apa yang dilakukan itu bisa melupakan kemiskinan yang menderanya.

Bahkan demi melawan kemiskinan, ribuan remaja di Indonesia rela antri di bawah terik matahari untuk ikut audisi lomba menyanyi. Dengan ikut audisi itulah mereka bermimpi menjadi kaya dan tenar. Bila dalam audisi itu dia menang maka impiannya itu terwujud, namun bila gagal mereka tetap kembali pada realita sebenarnya, hidup dalam ketidakmapanan. Kita semua berpikir, banyak orang di Indonesia yang bernyanyi dan menari untuk melupakan kemiskinan.

 

Ardi Winangun

ardi_winangun@yahoo.com
Matraman, Jakarta Timur

Sumber:

http://rifansofii.com/benarkah-orang-indonesia-tidak-membutuhkan-jam/

Diakses:

Senin, 11 April  2011 jam 14:52 WIB

 

 

 

BENARKAH ORANG INDONESIA TIDAK MEMBUTUHKAN JAM?

Pada artikel kali ini saya ingin membahas tentang budaya yang selama ini katanya sudah melekat pada masyarakat kita yaitu, budaya jam karet.Jam yang fleksibel, lentur, molor, dan bisa ditarik-tarik tentunya he..he..Sebagai masyarakat indonesia disadari atau tidak budaya ini sudah begitu erat melekat, budaya ini mengarahkan kita pada sifat-sifat yang tidak membangun menuju kemajuan, yaitu suka menunda-nunda pekerjaan, tidak disiplin terhadap peraturan yang telah ditetapkan, kurang menyadari akan pentingnya manajemen waktu dalam kehidupan sehari-hari kita. Walaupun sebenarnya masyarakat kita tidak semuanya seperti itu, tetapi sayangnya prioritas masyarakat kita memang seperti ini jadi mau tidak mau ya pandangan seperti ini mengena pada seluruh masyarakat kita

Kalau kita kurang bisa menghargai waktu buat apa kita punya jam sebagai penunjuk waktu. Sebenarnya kalau dikatakan masyarakat kita tidak menghargai waktu sepertinya kurang tepat juga, sebenarnya kita juga bisa disiplin dan menghargai waktu hanya saja kita belum benar-benar mengerti dan merasakan manfaat baik dari manajemen waktu, makanya sampai saat ini kita masih suka seenaknya dan lalai. Setiap waktu itu akan memberikan nilai atau manfaat jika kita menggunakannya untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat, dan akan tidak akan memberikan menfaat apapun jika kita hanya melewatkannya tanpa berbuat apapun atau digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Orang-orang yang telah sukses akan sangat kecewa jika ada waktu yang terbuang sia-sia, mereka adalah tipe orang yang menyadari bahwa kesuksesan yang mereka dapatkan saat ini adalah buah dari penghargaan mereka terhadap setiap bagian kecil dari waktu

Berbicara masalah menghargai waktu saya ada pengalaman dan sepertinya ini menarik untuk diceritakan dan bisa kita ambil pelajarannya.Saya mempunyai seorang teman dan kebetulan dia memiliki teman dari Jepang. Suatu ketika orang jepang ini berkunjung ke Indonesia karena sedang ada suatu urusan dan mengajak teman bertemu di suatu tempat. Orang Jepang terkenal dengan kedisiplinannya, mereka selalu datang tepat waktu ketika ada suatu janji pertemuan. Karena kebiasaan masyarakat kita yang masih kurang disiplin datangnya pasti terlambat, ya walaupun cuma 5 menit tetap saja telat namanya, dan bagi orang Jepang hal ini merupakan cerminan kepribadian orang tersebut yang kurang baik. Karena teman saya datang terlambat dalam pertemuan tersebut, orang jepang tersebut sampai mengatakan “sepertinya orang Indonesia tidak membutuhkan jam”. Walaupun kata-kata ini diucapkan dalam suasana bercanda seharusnya kita harus malu dan menyadari kekurangan kita ini.

Kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang maju jika kita tidak mau disiplin dan menghargai waktu, dan kita pun akan semakin jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lainnya kalau kita seperti ini terus. Cara terbik untuk mulai disiplin adalah dari diri kita sendiri.

RESUME 1

Banyaknya persoalan yang dihadapi manusia dalam menjalani interaksi di kehidupannnya, baik itu dalam intereaksi sosial, politik, budaya, maupun interaksi ekonomi. Seperti salah satu contoh persoalan manusia Indonesia dalam bidang ekonomi adalah bagaimana begitu sulitnya mencari pekerjaan, atau memiliki pekerjaan namun penghasilan yang tidak kunjung mencukupi. Jangankan kebutuhan sandang dan papan yang kan dapat diperoleh, untuk sekedar memenuhi kebutuhan pangan saja manusia harus melakoni usaha tambahan yang tak jarang menghalalkan apa yang seharusnya haram, seperti adanya praktek-praktek korupsi yang bahkan sistematis dan terorganisir, sehingga untuk mengungkapnya membutuhkan anggaran yang sama dan bahkan lebih besar dari uang yang diduga hilang karena korupsi itu sendiri.

Belum lagi persoalan elit politik yang kian tidak memiliki ketegasan dan sikap cepat tanggap akan persoalan yang dihadapi rakyatnya, seperti nasib awak salah satu kapal kargo Indonesia yang dibajak perompak Solami, sejauh ini belum terlihat upaya yang berarti dari pemerintah, apakah itu memalui diplomatis maupun tindakan tegas memalui militerisasi seperti yang dilaksanakan Pemerintak Korea demi kebebasan hidup rakyatnya. Bagaimana upaya pemenuhan kebebasan rakyat untuk hidup ini sepantasnya dipikirkan pihak-pihak yang sudah diseleksi dan dipilih rakyat dengan demokratis.

Namun bagi banyak masyarakat persoalan tersebut berusaha dilupakan sejenak dengan melakukan hal-hal yang bersifat menghibur serta lucu. Apa yang dilakukan Briptu Norman merupakan salah satu contohnya. Lain hal masyarakat akan bernilai positif jika mengupayakan hal tersebut demi menhindari tindakan-tindakan yang merugikan khalayak banyak seperti korupsi apalagi tindakan-tindakan asusila seperti apa yang dilakukan salah satu anggota dewan dengan menonton vidio asusila.

Masyarakat dapat sejenak melupakan, menyegarkan, dan merelaksasikan pikiran dan diri dari semua persoalan kehidupan dengan bertingkah layaknya selebriti seperti apa yang di lakukan masyarakat india dimana mereka berbondong-bondong menonton film bollywood bahkan menari-mari. Bukankah hal yang demikian itu positif?.

Ketika suatu kebudayaan diterima di tempat lain dengan budaya setempat yang sama sekali berbeda, kebudayaan itu akan membaur dengan sendirinya, meski ada kekhawatirkan akan dapat merusak budaya asli daerah tersebut, setidaknya kehadiran budaya asing yang dalam hal ini adalah budaya Bollywood, memiliki sisi positif yakni berupa sarana penghibur bagi masyarakat di Indonesia dengan segala macam caranya.

RESUME 2

Budaya merupakan jati diri daripada pemilik budaya itu sendiri, dan ketika masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan untuk menyia-nyiakan waktu, mengulur pekerjaan, kedatangan yang terlambat setidaknya lima menit maka keterlambatan itu menjadi budaya bangsa. Lain hal dengan masyarakat Jepang yang terkenal dengan disiplinnya. Maka itu disiplin merupakan budaya mereka.

Toleransi-toleransi yang diberikan atas keterlambatan semakin membuat keterlambaan itu sering terjadi, ini karena pihak-pihak yang berkewajiban untuk tepat waktu malah memanfaatkan waktu toleransi tersebut untuk berleha-leha. Parahnya, ketika disiplin itu berupaya ditegakkan segelintir pihak, tak jarang pihak yang memiliki kuasa akan keberadaaan disiplin sendiri malah menyudutkan pihak yang berusaha menegakkan disiplin. Seperti pandangan banyak mahasiswa akan dosen-dosen yang on time dan kemudian muncul istilah dosen killer yang diartikan membunuh hak-hak mahasiswa yang dilontarkan tampa berupaya memahami maksud dari upaya disiplin dosen tersebut.

Ketika ada individu yang berusaha on time, hampir terus terbuang waktunya karena menunggu, ini menjebak individu tersebut intuk kemudian berpikir dan melaksanakan tindakan yang ngaret itu. Seperti banyak instansi pun memberikan toleransi-toleransi, apakah itu sekolah, pemerintah, swasta, universitas bahkan. Keterlambatan ini telah berakar  bidangmenciptakan bangsa yang kuat dalam berbagai bidang.

Budaya suatu bangsa jika diurai secara lebih kusus dapat memiliki dua nilai yang bertolak belakang. Suatu budaya bernilai positif  jika budaya memberikan hal yang dapat memajukan dan mengembangkan pemiliknya, sebaliknya budaya bernilai negatif jika budaya lebih banyak berefek pada kemerosotan yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan kepentingan asing yang bertujuan menghancurkan bangsa tersebut. Batasan nilai-nilai kebudayaan ini bersifat relatif. Ketika sesuatu budaya dipandang baik bagi suatu bangsa belum tentu demikian bagi bansa lain.

Dengan penanaman sudut pandang pentingnya tepat waktu dalam pikiran pribadi setiap anggota masyarakat di indonesia, maka ini merupakan langkah kecil yang membesarkan bangsa akan nilai kebudayaan yang bersifat positif, dan dalam skala lebih besar berakibat pada kemajuan bangsa secara menyeluruh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s